Saturday, October 27, 2012

Yang Berjuang Melawan Tanya

Menyatakan dan membuat pertanyaan.
Sesaat ini aku merasa takut
Terlalu banyak menaruh mimpi

Menulis ini di relung dan waktu tidurku
Aku masih terjaga, mataku terbuka
Lendir sedikit menghiasi lubang hidungku
Menambah keanehan kelam langit di luar
Tapi yang membuatku terjaga pun tak ada yang tahu

Aku menunggu, tapi tidak menanti-nanti
Tapi lagi-lagi aku tetap terjaga
Tulisanku pun terlihat terlalu seadanya
Mungkin juga seenaknya

Aku belum cukup pintar untuk berpikir
Apa yang harus aku buat sekarang

Membiarkanmu melepas lelah sepertinya melegakan
Dan sungguh, ketika melakukannya terasa menenangkan

Ya, sepertinya untuk saat ini berusaha menerima
Walau aku tidak cukup tau apa yang aku terima

Dan dunia ku yang belum sempat aku tumpahkan kehadapanmu
akan aku rangkul dan kuajak mundur terlebih dulu
Akan berat memang, dan aku bukan manusia yang kuat

Dan untuk kembali?
Ah rasanya aku ingin membiarkan waktu yang menentukan
Walaupun sesungguhnya waktu bukanlah karibku

Lucu, tapi aku rasanya ingin sesekali membohongi diriku
Dengan menjaga batas yang kubuat nanti
Sambil berkata tidak merindukanmu

Aku penakut
Takut kehilangan yang sekarang aku tidak miliki

Menurutmu aneh?
Tenang, kamu tidak sendiri jika berpikir seperti itu

Jelasnya,
Aku seperti ini, dan kita seperti ini

Dan jika hanya bertanya-tanya dalam hati
Kau selamanya buta tentang ini

Aku tidak menghilang
Mungkin itu sebatas kau yang tidak dapat melihat aku

Friday, October 12, 2012

Picking Up The Pieces - South Jordan

Akhir-akhir ini, lagu yang ini yang suka stuck di pikiran, share aja deh ya



Picking Up The Pieces

Dead man walking in my shoes
It breaks his heart as he breaks the news
That everyone expected
Why couldn't he accept it?

He was tearing at the seams
Seems the world it wouldn't let him dream
It's feeling like the end of the line
Maybe it's a sign of the times

Keep calm and carry on
But I'm down to nothing
But even if i start to break apart

With a little bit of luck
I'm gonna find a way
Oh I swear this won't be all for nothing
Cause i'm picking up again
Just need a little bit a love
No matter what they say
If i'm down, don't count me out
It won't be long
Cause I'm picking up, picking up the pieces

Clock stops.
Looking at a polaroid photograph
It's never gonna be the same
My pain is a secondhand heartbreak
Passed down just like every other bad trait
Gotta stay strong gotta try to move on
Gotta stick together
It's the only thing we've got now
Take my hand.
Even if i start to break apart.

With a little bit of luck
I'm gonna find a way
Oh I swear this won't be all for nothing
Cause i'm picking up again
Just need a little bit a love
No matter what they say
If i'm down, don't count me out
It won't be long
Cause I'm picking up, picking up the pieces


Ini lagunya


Versi Akustiknya

CTRL + Q to Enable/Disable GoPhoto.it

Sunday, September 30, 2012

Detik-Detik Tawa

Setelah sekian sebentar yang terasa lama
Aku mencoba menuliskannya
Menintakan kertas ini dengan tawa
Karena aku tahu apapun di depan sana,
bahagialah akhir kisah ini

Hei, aku tidak sedang sendu ketika menulis ini
Begitupun tulisan ini,
ia bukanlah pembawa rintihku

Aku mulai menyesuaikan jiwaku dengan keadaan ini
Memulai mengalihkan pikiranku,
tapi tidak hatiku

Bukannya aku membatukan hatiku,
Tapi aku juga tidak berharap ia tertiup angin dari tempatnya berdiri sekarang

Aku hanya berkata padanya bahwa di sini lah tempatnya,
dan aku yakin
dia tahu apa yang lebih baik bagi dirinya

Aku yakin akan ada senyum bahagia di ujung sana
Dan sebelum tiba waktunya,
aku akan mengisi jalanku dengan senyum-senyum kecil lainnya
Dan aku harap
dirimu juga mengisi ceritamu bersama senyum-senyum itu

Mungkin kamu berpikir mengapa terlalu banyak "aku" di tulisan ini
Itu karena
sekarang belum saatnya bercerita tentang "kita"

Dan sebenarnya,
aku memiliki harapan besar pada suatu cita kecil
Suatu saat,
semoga kita berdua bisa bermain kata dan keindahannya
bersama

Sunday, September 16, 2012

Bintang Terdekat Aku

Karena aku masih berharap, aku tetap mencoba
 
Aku meninggikan keinginan yang terucap dari keindahan yang tak terulang
Karena itu aku berdoa itu belum berakhir
Supaya tidak perlu mengulang
Dan sehingga semua menjadi mungkin
 
Ini bukan soal kemenangan

Aku yang sekarang tau apa yang mataharinya rasakan dulu
Yang kini berharap mentarinya tetap menghujani bumi dengan butiran rasa yang sama
 
Mentari yang terlalu sering menyilaukan dibanding matahari-matahari pendahulunya
Mentari yang tidak jarang juga menyembunyikan dirinya
Sehingga malam duniaku datang terlalu cepat
 
Matahari yang hanya sesekali menerbitkan dirinya sendiri
Dan aku yang memanggil-manggil dirinya untuk bersinar
Karena aku tau aku butuh siang dari dirinya
 
Walau terkadang mataku mencuri-curi untuk memejam
Aku tak pernah ingin membiarkan diriku untuk tidak terjaga saat siang, 
Entah saat sinar sang mentari sangat menyilaukan maupun terlalu redup

Ketanyaan Yang Masih Kosong

Sesaat terlintas tanya
Siapa sebenarnya aku bagimu
Kau bagi aku
Siapa sebenarnya kita

Aku hanya mampu menjawab satu
Dan kamu mampu yang satu lainnya
Satu harapan yang masih kupegang
Kita mampu menjawab pertanyaan terakhir bersama

Hanya apa yang dapat kulakukanlah yang aku pedulikan
Tak pernah bermimpi lebih tentang apa yang nanti akan ku dapat.
Sebab aku tidak ingin banyak berharap

Aku tidak membual ketika memperjuangkan agar kau bahagia dengan orang lain
Dan sungguh, tak ada secercah pun kebohongan saat aku mendukungmu

Untuk kamu ketahui, aku tak cukup percaya diri untuk buatmu berbahagia

Mungkin aku gila
Karena aku sekarang berharap kamu mempercayai aku, saat aku bahkan tidak mampu mempercayai diri sendiri

Thursday, August 2, 2012

Huruf yang Bercerita

Menorehkan senyum
Menghilangkan apati
Menjunjung rasa
Mengembangkan angan
Meniupkan harapan

Menyerah pada diam
Membiarkan lelah berkuasa
Memperlebar jarak
Membesarkan luka
Meninggikan batas
Mengeraskan hati
Membalikkan arah

Yang masih tertanya
Akankah menetap

Saturday, July 14, 2012

Harapan

Ini sebenernya tulisan yang dibuat di Ranukumbolo, Semeru pas Desember tahun lalu gara-gara pas di tenda kebangun sendirian, dingin, sinyal juga belom dapet. Waktu itu mataharinya terbit masih lama, jadi ya nulis aja ngisi waktu. Harusnya sih dipos dan masuk ke cerita perjalanan ke Semeru yang part I sama part II nya uda dipos dari kapan tau, tapi berhubung minimnya waktu dan motivasi, part III nya ga kelar-kelar, yaaaaa jadi tulisan ini aja yang dipos dulu. Yaa seperti biasa, dari dulu emang ga pernah bisa milih judul, jadi ya judulnya sembarangan. Selamat menikmati ahaha...


Harapan

Ketika bumi mulai menunjukkan keangkuhannya
Ketika mentari tak lagi hangat
Aku menemukan pelangi
Sebuah kesempurnaan yang hadir setelah duniaku diterjang badai
Dengan harap, kucoba berlari tuk menghampirinya 
Namun sekuat apapun ku berlari, tak sehasta pun jarak kami berkurang

Aku tahu aku bukanlah satu-satunya yang tenggelam dalam kekaguman akan dirimu
Dan aku tahu, hampir semua kecewa

Sungguh aku tak peduli hadirmu di setiap hati orang yang kagum adalah nyata maupun semu. Tidak sedikit yang berbahagia meski hanya dengan kehadiranmu dalam dunia mereka.

Aku bukanlah sesosok insan yang istimewa, tapi mungkinkah aku menjadi insan paling beruntung? Insan dengan jiwa yang kau percaya untuk menerima kebahagiaan darimu setiap saat?
Insan yang dapat meyakinkan dirimu, bahwa dirimu adalah pelengkap duniaku?

Wednesday, July 11, 2012

Noktah Putih


Aku tak pernah kecewa pada waktu
meski aku menaruh banyak harapan padanya.
Sejak awal aku tak pernah bersahabat dengan waktu.
Kami berjalan beriringan tanpa saling mengenggam.
Selalu di sampingku namun bisu.
Melepas aku memilih tanpa batas.


Bukan yang baik yang aku pertahankan. 
Aku hanya berusaha untuk apa yang aku anggap benar,
tak peduli itu baik untuk aku
atau justru menyakitkan.


Pikiran ku yang tertutup dan mengabaikan tubuhnya.
Hati yang menyakiti dirinya sendiri dengan perasaannya.
Dan aku yang berdiri berusaha mencari arah.


Sekedar memperjuangkan apa yang aku rasa benar
walau mungkin itu yang terburuk.

Sunday, May 27, 2012

Alhamdulillah


I'm just a rock, 
and everyday I sit and watch the sky
I sleep here in the sun and rain, and do not question why
I don't want to be a bird, 'cause as rocks we're never meant to fly
But you can sit and rest on me when you pass by

Alhamdulillah - Alhamdulillah I'm a rock
And that is all Allah asks of me
Alhamdulillah - Alhamdulillah I'm a Muslim
And there's nothing else I'd rather be


I'm just a tree,
and this is the only life I'll ever know
I'll bow my bows and worship whenever I feel the wind blow
And my purpose in life is to grow when Allah says grow
And be a home for the birds and shade for folks below

Alhamdulillah - Alhamdulillah I'm a tree
And that is all Allah asks of me
Alhamdulillah - Alhamdulillah I'm a Muslim
And there's nothing else I'd rather be


I'm just a person,
and my life is full of opportunity
I can travel through the world, over land and over sea
But will I choose the path of Truth, or a path to misguide me?
Sometimes I wish I had a simple life, just like a rock or a tree

But Alhamdulillah - Alhamdulillah I'm a person
And Allah has given me a choice that's free
So, Alhamdulillah - I choose to be a Muslim
And there's nothing else I'd rather be


Alhamdulillah - Alhamdulillah I'm a person
And Allah has given me a choice that's free
So, Alhamdulillah - I choose to be a Muslim

And there's nothing else I'd rather be
No, there's nothing else I'd rather be



Alhamdulillah - Dawud Wharnsby Ali

Tuesday, March 13, 2012

Berdiri Teman

Kering kerontang jalan yang terbentang
Teka teki hidup apalagi ini
Hatipun melemah saat kan kembali pulang

Tak usah berharap lebih tuk berlari
Mungkin hari ini tak pernah kembali
Berjalanlah perlahan menyelesaikan hari

Jangan jadikan kenangan
Teka teki hidup yang nyata
Jangan jadikan kenangan
Teruslah berjalan perlahan

Jangan kau jadikan satu kenangan
Yang memilukan, Berdiri teman
Jalan begitu panjang terbentang
Jangan kau lewatkan tanpa harapan

Berdiri teman
Dengan harapan

Berdiri Teman
Raih harapan


Berdiri Teman - CloseHead

Monday, March 12, 2012

Bayangan Yang Tergores

Malam yang menyelimuti matahari
Bulan yang tak berubah parasnya
Bintang yang bergerak bersama
Pepohonan yang memecah angin
Langkah kaki yang merusak hening
Dan yang tersesat dalam nyamannya

Kini ia berubah
Berlari meninggalkan semua itu

Bukan,
Bukannya surya sudah terjaga
Bukannya terik kini menusuk
Bukannya pohon telah tiada
Bukannya bintang terganti asap
Bukannya hangat turut menerpa

Abstrak,
Duniaku benar-benar memudar
Meninggalkan kepekatannya

Bukannya ia berganti warna
Berubah menjadi hal yang pasti
Yang jelas baik atau buruk

Ia hanya mengikis dirinya
Larut bersama waktu
Menuju bening tak terlihat
Dan kini menjelang hilang
Dan akhirnya......

Disambut ketidakpastian

Sunday, March 4, 2012

Baru Tau

Baru tau hari ini dan gaada 2 jam yang lalu kalo:

Nama "Baskoro" yang artinya "Matahari" di nama panjang kakak gua yang pertama (Herolistra Baskoroputro)
itu gara-gara pas itu ada gerhana matahari

Terus baru nama kakak gua yang kedua "Kartiko" dan gua "Bawono" ngikutin dia.

Arti lain-lainnya bisa diliat di sini

Quote Time

"Kau bisa senang setelah kau mendapatkan sesuatu.
Dan bisa berubah kecewa setelah kau meminta lebih"
-Zarry Hendrik-


Quotenya bagus banget menurut gua. Yang diajarkan quote ini bukan berhenti berusaha dan mudah puas, tapi mudah bersyukur dan tetap berusaha untuk mendapat yang lebih baik.


Bener kan? Hidup jadi bahagia pas merasa bahwa yang kita miliki sudah cukup dan saat kita memperjuangkan yang lebih, kita tidak akan takut gagal. Karena walaupun gagal,kita bakal kembali ke tempat awal yang tadi sudah kita rasa cukup. Dan merasa cukup disini bukan berarti tidak perlu berusaha lagi.

Saturday, March 3, 2012

Enyak

Jadi ceritanya, saya harus nyiapin bahan buat tes praktek berbicara Bahasa Indonesia
Yang di tes sih sebenernya Public Speaking-nya
Tadinya mau jadi moderator buat pembukaan seminar sebelum akhirnya saya ketemu anak yang satu angkatan sama saya, entah temen, musuh, atau figuran saya juga kurang tau yang tesnya sebelum saya. Dia bilang kalo dia pake monolog dan dia nyontohin gimana.
Agak terinspirasi, saya jadi ngerubah materi saya. Bukan monolog sih, tapi ya gitu. Kurang lebihnya gini:



IBU

Kenalkah kalian dengan Ibu?
Mungkin pertanyaanku terdengar bodoh, tapi aku serius
Apakah kalian benar-benar mengenal ibu kalian?

Ibu yang selalu menyayangi kita,
Ibu yang selalu memberikan apa yang kita perlukan,
Ibu yang tidak pernah mempedulikan dirinya saat kita membutuhkan,
Ibu yang tidak pernah lupa mendoakan kita yang terkadang malah lupa mendoakan diri sendiri,
Ibu yang tak henti-hentinya menasehati kita yang seakan-akan tidak pernah bosan membuatnya kecewa.

Benarkah kita mengenalnya?
Mengetahui arti dari tiap amarahnya,
Mengerti apa yang dirasakannya,
Mendoakan apa yang menjadi mimpinya,
Pernahkah kita mencoba untu mengenalnya?

Ibu tidak akan memaksakan pintanya pada kita
kecuali itu yang terbaik untuk kita.
Ibu tidak akan menceritakn penderitaannya
kecuali kita dapat mengambil pelajaran dari sana.
Ibu tidak akan membuka setiap hal tentang dirinya
kecuali kita yang mencoba membukanya

Tidakkah kita bahagia ketika mampu melihatnya tersenyum,
membuatnya bangga,
mewujudkan sekuruh impiannya,
dan menyembuhkan segala sakitnya

Kalian tentu tahu bahwa Ibu kalian akan bahagia ketika melihat kalian bahagia.
Sekarang coba bayangkan,
Bayangkan ketika Ibu kalian melihat kalian bahagia,
dan kebahagiaan kalian disebabkan kalian telah berhasil membuatnya nyaman.
Coba bayangkan apa yang akan ia rasakan?

Aku tidak membutuhkan jawaban kalian
Aku hanya berharap kalian memikirkanya dn menjawabnya dalam hati kalian masing-masing



Topik orang tua paling gampang diangkat, tadinya pingin "orang tua", tapi kepanjangan. Dan dengan random yang kepilih Ibu. Maaf ya pakk, ga pilih kasih kokk :D

MUSICK

Yah sekedar share aja, mungkin kalo lagu-lagu yang gua dengerin diurutin dan dijadiin tangga lagu yang sering gua dengerin minggu ini:

1. Fatal Flaw - South Jordan
2. If It Means A Lot To You - A Day To Remember
3. Kiasan - Monkey To Millionaire
4. Lovesick Fool - The Cab
5. What Am I To Say - Sum 41
6. Try - Melissa Polinar
7. Starlight - Muse
8. Heart Of Pop (Percayalah) - Closehead
9. The Beautiful Story (Of Yusuf) - Dawud Wharnsby Ali
10. Fireflies - Owl City

Niatnya cuma share, kali-kali ada yang cocok sama telinga kalian. Kebanyakan lagu lama sih, tapi kalo masih suka gimana?

Wednesday, February 29, 2012

Kiasan

Samar tak terlihat
Mengagumi dan terikat

Terbuang, tertinggal
Semua cerita yang lama

Benahi semua yang tercerai
Dan kini aku kembali

Dan bayangan itu
Kembali mengungkap yang lalu

Diam tak bernyawa
Bercerita di dalam sepi

Benahi semua yang terberai
Dan kini aku kembali


Ku dan waktuku
Kau dan ceritamu
Larut terdampar di ceritamu

Di kiasan kita bertemu dan berjalan di kertas ku
Di kiasan waktu berhenti



Kiasan - Monkey To Millionaire


Wednesday, February 22, 2012

Yang Terjatuh Untuk Mengangkasa

Yang terjatuh di masa lalu
Yang berharap mampu memutar waktu
Yang mencoba menegarkan dirinya sendiri
Yang berpikir semua karena lampaunya

Teruntuk yang menghadapi kegelisahan
Kau pernah terjatuh dalam lubang keterpurukan
Lubang yang meninggalkan bekas di ingatanmu
Lubang yang menorehkan luka dalam perjalananmu
Mungkin kau pikir itu akibat kecerobohanmu
Kecerobohan dalam menyeberangi jembatan hidupmu
Jembatan di tengah perjalananmu

Teruntuk yang menangisi cermin masa lalu
Kau telah menarik diri dari lubang itu
Bangkit dengan segala yang ada
Berjalan dengan sisa luka
Kau berlari menghampiri sang tujuan
Kau bersama jutaan jiwa lainnya

Teruntuk yang merasa dikecewakan waktu
Ketika lukamu melebar lagi
Ketika ingatanmu hadir kembali
Perlukah dirimu membalikkan badan
Meratapi lubang yang menggoresmu
Apa kau yakin dirimu takkan terjatuh jika waspada?
Benarkah kau akan berlari jika tidak terjatuh?
Tapi membalikkan badan itu pilihanmu
Terus memandang tempat kau terjatuh
Memunggungi sang esok
Dan mungkin kau lebih mudah terjatuh ke jurang tak berdasar

Teruntuk yang masih mempercayai harapan
Putar kembali tubuhmu
Genggam orang-orang yang mendoakanmu
Tetaplah berlari

Wednesday, February 1, 2012

Perubahan

Sayup,
Mataku terlalu jenuh
Aku merasa jauh dari duniaku
Dunia yang selama ini kupijak
Bersama udaranya yang selalu ku hirup
Dan kehangatannya yang menenangkan

Kini aku merasa tak mengenal mereka lagi
Mereka seakan menciptakan dunia baru
Dunia yang hanya ada mereka seorang
Dunia yang tak terjangkau seorangpun
Dunia sepi penuh mimpi

Mereka berubah, dan aku berubah
Aku tak menolak perubahan
Sebuah proses yang tak pernah hilang dalam hidup
Tapi tak bisakah kita berubah perlahan?
Bukan waktunya kita mengabaikan dunia lama
Dunia yang kita bangun dengan tawa, dengan berbagi
dan kepedulian
Akan tiba disaat dunia kita tak layak lagi bagi kita.
Tapi aku mohon,
Sebelum waktu itu tiba, bantu aku menjaga dunia ini.

Saturday, January 21, 2012

Short yet Huge Journey to Semeru (Part 2)

Ngiik, kami turun dari kereta api yang uda membawa kami dari Jakarta sekitar 17 jam.
Uda banyak yang turun sebelum stasiun Malang, jadi stasiun ga begitu rame pas kita turun dari kereta. Ada sekumpulan anak TK pake baju olah raga sama guru-gurunya, kayaknya Study Tour deh. Wajahnya seneng-seneng banget, gua jadi senyum-senyum inget masa kecil. Kayaknya indah banget ya, gaada beban, gaada masalah yang lebih besar daripada ucapan “Ga temen lho”. Gaada yang namanya stress mikirin nilai. Gaada galau-galau. Belom ada jartel. HP aja belom punya. Yang cita-citanya terserah kita, jadi detektif lah, astronaut lah, ninja lah, pokoknya yang aneh-aneh dan semua itu dianggalp wajar. Uang jajan yang ga lebih dari 3 ribu tapi ga pernah kekurangan. Sekolah yang ga sampe setengah hari. Bener-bener bikin kangen.

Kami istirahat bentar, sambil nyari toilet dan habis itu numpang buang air sama cuci muka. Ngangkat carrier dari kereta ke peron aja rasanya berat banget, masih belom biasa.
Setelah berdebat mau naik apa, kita putusin buat nyarter angkot. Tapi kita bingung, kita masih baru di Malang. Gatau harga yang lumrah sampe ke tempat registrasi di Tumpang.
Eja terus masuk ke kepala stasiun, gua bingung juga dia ngapain. Gua, PB, Aris nunggu di bangku peron, laper, ga makan berat dari semalem. Habis itu Eja keluar dan ke tempat taksi & angkot. Beberapa lama Eja balik, sambil ngomong “Ayok, dapet nih sampe Tumpang dianter pake Espass gitu, bayarnya 90rb”. Semuanya langsung bangun, ngangkat carrier, trus jalan ke mobil itu. Eja duduk di depan. Sisanya bertiga di tengah.

PB nurunin jendela, Aris juga mau nurunin tapi bingung, trus gua tunjukkin

Gua: Mobil gua jaman dulu kayak gini, dulu mantep banget
PB: Iya, dulu mobil gua juga Espass. Uda kayak Alphard. Tapi dulu.

Dan gua mikir, gimana ya mobil-mobil masa depan, bakal tambah fitur apa lagi? Yaa liat aja deh ntarnya.

Beberapa percakapan sempet terjadi sama pak supir, gua ga inget-inget banget, jadi gua tulisin aja beberapa yang dia bicarain


“Orang Jakarta pingin ke Malang pingin tau Semeru itu gimana, uda biasa sama Ancol. Orang Malang pingin ke Jakarta pingin tau Ancol gimana, uda biasa sama Semeru. Itulah dunia”
“Jangan sombong di sana, kalian kan baru. Jadi hati-hati. Kalo orang yang uda biasa kan lebih bisa kira-kira”
“Bahaya atau engga sebenernya tergantung kalian”
“Pokoknya kalian jangan maksa, kalo kira-kira ga memungkinkan, ya ga usah muncak”

Yaah sebenernya cukup banyak, sayang gak gua inget baik-baik.


Gaada sejam, sekitar jam 10an, kami uda nyampe tempat registrasi. Pas turun ada bapak-bapak naik motor nanya.
Bpk: Mas, mau daki ya? Mau naik apa ke Ranupani nya?
Kami: Belom tau mas. Antara Jeep sama Truk sayur. (Menurut info yang kahi dapet sebelumnya, harga sewa Jeep sekali jalan 450rb max 15 orang. Kalo ada barengan bisa 30rb/orang dan sekarang masalahnya lagi sepi. Truk sayur 30rb/orang, tapi adanya subuh)
Bpk: Wah kalo truk sayur uda gaada jam segini. Mau jeep aja?
Kami: Yauda, liat ntar deh pak.
Bpk: Tunggu ya *sambil ngegas motornya*

Kami masuk ke tempat pendaftarannya. Kayak rumah dinas gitu, motor-motor yang parkir motor kopling semua. Mungkin karena di daerah yang tanjakannya agak gila.



Eja yang ngurus administrasinya. Di sana kami numpang ngecharge HP juga, lumayan lah walau bentar.
Ga lama Eja keluar dari ruang pendaftarannya. Ada masalah.

Eja: Aduh, ga boleh pake Akte Kelahiran sama KK nih identitasnya (Eja belom 17 tahun, jadi belom punya KTP dan Kartu Pelajarnya Eja ilang, jadilah dia ga punya kartu identitas. PB sama Aris pake KTP, gua pake SIM C yang dulu masih boleh 16 tahun. Tentunya semuanya fotocopyan)
Gua: Elo beneran gaada kartu identitas sama sekali?
PB: Kartu les gitu? Kayak gini *nunjukin kartu les bahasa inggrisnya*
Gua: Emang bisa?
PB: Bisa kayaknya.
Eja: Gaada sama sekali.
PB: Aduh gimana ya.

Kita sampe ngerencanain mau fotocopy simnya PB terus diedit fotonya. Tapi masih bingung mau ngedit dimana. Kita ga liat warnet sama sekali di deket situ.

Tiba-tiba petugas administrasinya keluar. Terus dia ngomong “Mas, gapapa deh tadi pake KK sama Akte”

Eja: Peb, lo aja yang ngurus, gua uda terlanjur ga enak.
Jadilah PB sama Aris yang ngurus ke dalem.
Gua diluar ngeliatin mading-mading pengumuman & peraturan. Di peraturan, pendakian cuma boleh sampe kalimati. Di syarat pendaftaran pendakian juga ditulis harus menandatangani surat pernyataan hanya sampai Kalimati.

Tapi dari awal tujuan kami satu, tekad kami ga berubah dan selama Tuhan memberi jalan, Puncak!

PB sama Aris akhirnya keluar.
PB: Ahelo ris, kenapa ga elo aja pemimpin pendakiannya?
Aris: Ahaha males.
PB: Gua ga enak tau. Kan pemimpin pendakiannya ditulis identitasnya. Gua pake KTP yang lahirnya taun 92. Gua ditanyain “Pelajar mas? Tua banget”
Aris: Ahaha. Gapapa lah Peb

Habis itu bapak-bapak yang tadi dateng lagi buat mastiin jadi make jeep apa engga. Katanya berempat masing-masing 50rb. Terus Eja nego sama dia.

Gua ngomong ke PB, “Kalo 40rb seorang sih gua mau. Kalo lo gimana peb?”. “Kalo 40rb gapapa dah” katanya.

Eja selesai nego. Katanya 150rb buat 4 orang, langsung aja kami iya-in. Habis itu mas-masnya pergi. Katanya ntar bareng 3 orang pendaki lainnya. Dijemput dulu.


Ga begitu lama, jeepnya dateng. Kami langsung siap-siap. Carrier kami diikat di atas Jeep. Kai pun naik ke atas jeep, 3 orang yang naik sebelumnya uda duduk. Aris juga duduk, gua milih berdiri sama Eja & PB.
3 orang itu 2 cowok 1 cewek. Gua lupa namanya :'(
Kasih nama cwoj1, cwoj2, cwej ya? J nya tuh jeep ehehe. Tapi yang paling sering ngomong yang cwoj1.

Cwoj1: Mau naik mas? Dari mana?
Kami: *lupa detailnya yang jawab siapa* Iya mas, dari Jakarta. Mas juga mau naik?
Cwoj1: Iya, saya juga mau naik. Dari Jogja. Ke Malang naik apa?
Kami: Naik kereta mas.
Cwoj1: Kalo saya naik bus. Kan deket.
Kami: Uda berapa kali naik semeru mas?
Cwoj1: Ini yang kedua. Tapi belom pernah sampe puncak.
Kami: Sampe mana mas? Kalimati?
Cwoj1: Iya.
Kami: Sekarang mau sampe puncak mas?
Cwoj1: Engga mas, saya malah makin mundur. Cuma ke Ranukumbolo. Uda makin tua haha. *wajahnya sih 35 tahunan ke atas*
Kami: Gimana mas medannya?
Cwoj1: Enak kok, uda keliatan jalannya.

Pemandangannya ga nahan. Jalan yang kami lewati diapit jurang dan tanah yang tinggi. Di seberang jurang keliatan pohon-pohon sama sawah punya warga. Sekali-sekali ada ranting pohon yang lewat diatas jeep kami. Baru nyampe sini aja pemandangannya uda kelewat bagus. Bener-bener ga kebayang gimana selanjutnya.
Jalannya nanjak banget, uda gitu jauh lagi. Untung ga jadi jalan kaki. Belom mulai pendakian uda capek kayaknya kalo jadi. Herannya kami ngeliat ada orang bawa karung dari atas ke bawah, kayaknya sih warga, tapi heran aja jalan kaki bawa beban lewat jalan yang extrim & ditempuh pake jeep kurang lebih sejam.

Pas ditengah-tengah perjalanan tiba-tiba jeep berenti. Trus ada orang naik ke jeep, gelantungan di belakang, di besi pegangan jeepnya. “Numpang ya mas, ini temen saya maksain make motor, gakuat jadinya” katanya sambil senyum.
Jeepnya jalan, habis itu temennya ngikutin dari belakang. Sekali-sekali dia turun buat dorong motornya kalo misalnya tanjakannya lagi parah.

Orang tadi ngomong lagi “Dari mana aja ini?” Gua jawab ”Dari Jakarta sama Jogja mas”. “Kenalan dong, saya arif” *sambil salaman ke semuanya satu-satu*

Kami: “Masuk aja mas, daripada di situ. Mas dari mana?”
Arif: “Gausah, di sini aja. Saya dari Singosari, deket sama Malang”
Kami: “Mau naik mas?”
Arif: “Engga, mau metain daerah sini aja” *jawabnya selalu pake senyum, bener-bener enak ngomongnya*
Gua: “Dari mana mas? Perusahaan? Atau universitas?”
Arif: “Ga, ga ngewakilin instansi apapun. Saya berdua ke sini atas nama rakyat, kebetulan daerah sini belom dipetain. Itu temen saya ngeyel mau pake motor. Jadi gakuat. Tapi Allah itu emang Maha Adil, begitu motornya berenti ga kuat, seolah-olah dia ngomong “Nih Aku kasih mobil””
Kami: “Ahaha”
Arif: “Di Jakarta dimananya?”
Eja: “Di Manggarai”
Arif: “Kalo saya kadang-kadang di Depok”
Purna: “Saya di Depok mas, di deket UI”
Arif: ”Kalo ke stasiun Citayam atau Bogor, trus ada yang ngamen, bisa jadi itu temen-temen saya. Saya juga sering ngamen di situ. Kalo misalnya lagi bosen di Singosari, saya ke Jakarta terus ngekos, ngamen”

Mas Arif


Terus dia nanya hal yang sama ke rombongan dari Jogja yang bareng gua. Dia ramah banget. Dan seakan-akan tau banget daerah Jogja.

Jeepnya terus jalan. PB sering kesakitan gara-gara dia nyender besi pegangan, ngadep depan jadinya kepentok-pentok setiap ada jalan yang rusak. Mas Arif masih gelantungan. Kanan kiri banyak bukit-bukit mini yang hijau. Sekali-sekali ada rumah kecil, jaraknya jauh-jauh.

Siiingggg pemandangan di kiri bener-bener bikin mangap, seolah-olah ada komando semuanya nengok. Pujian buat Yang Di Atas ngalir terus dari mulut gua. Parah banget, parah. Bukit hijau besar yang di bawahnya ada tanah yang bener-bener lapang. Kayak di film-film perang macem LOTD gitu.
“Itu bromo” kata mas Arif. Semuanya pingin berenti, berenti sebentar buat foto-foto. Eja bilang ke supirnya. Kata supirnya ntar aja keatas sedikit kalo mau berenti.

Dan bener aja, jeepnya berenti di spot yang bener-bener bagus. Semuanya turun, foto-foto. Mas Arif nawarin diri buat moto-in.


Hasil fotonya juga lumayan, pasti bukan orang sembarangan.

Jeep kami

Habis itu kita ngelanjutin perjalanan.

Rumah-rumah keliatan makin padat, kayaknya sih bentar lagi nyampe. Kami ngeliat tanah kayak lapangan luas banget. Jeepkami jalan menanjak di samping lapangan itu. Terus ada yang bilang “Kita uda di Ranupani”. Ternyata lapangan yang kami liat itu adalah danau, danau yang ditutupin sama tumbuhan-tumbuhan air. Bagian yang ga ketutupan air keliatan cuma kayak becekan di lapangan.

Jeep kami berenti di sebelah tempat pendaftaran ulang. Udaranya dingin, anginn berhembus seakan meniup-niup kami, seger. Kami semua turun dan langsung ngambil carrier masing-masing. Habis itu kami berempat ngumpul, kami masih bingung mau berangkat kapan, kami masih menduga-duga banget soal waktu perjalanan. Kami juga pingin cepet-cepet balik ke rumah. Mas Arif uda pergi gatau kemana sama temennya.


Cwoj1: “Gimana mas? Jadi berangkat sekarang?”
Kami: “Masih bingung nih mas”
Cwoj1: “Itu di buku pendaftaran ada rombongan dari Jakarta, temennya ya?” *Kami emang cerita kalo ada temen yang naik duluan”
Kami: “3 orang mas?”
Cwoj1: “9 orang tulisannya, mungkin gabung sama kelompok lain”
Kami: “Iya kayaknya temen” *kami ngecek namanya*
Cwoj1: “Yauda ya mas, kami berangkat duluan”
Kami: “Oke mas, ati-ati ya”

Gua agak kaget, si “Cowok Jogja 2” nenteng tas tenda. Ga ditaro di carrier. “Apa ga berat ya ntar di jalan?” pikir gua.

Masih belom bulat keputusannya, kami pun kembali berdiskusi.

Wednesday, January 11, 2012

Pria dan Matahari

Ini nemu di kaskus, dipost sama account yang namanya snorelich.

Ahaha menurut gua sih lumayan bagus, nih postingannya



Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.

Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria
berkata ingin menjadi matahari.

Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu
kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap

menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan
tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari.

Wanita berkata ingin menjadi burung Phoenix yang bisa terbang ke langit

jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi
matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun

pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah

bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari.

Pria merenung sendiri dan menatap matahari.

Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat

terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga

agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang

cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan

pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut
kasih yaitu memberi tanpa pamrih.

Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat
terus bersinar indah dan dikagumi.

Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi

saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada

matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun

ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan

kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan

mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan,
menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.

Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit

bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar

Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan
mencegahnya.
Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari

akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya
untuk phoenix.

Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau

phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain

selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan

cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi
dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.

Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita.


Ga menggambarkan gua banget kayaknya.

Thursday, January 5, 2012

Short yet Huge Journey to Semeru (Part I)

Tulisan ini dibuat hanya untuk berbagi. Bagi yang ingin melakukan perjalanan yang sama, gua persilahkan buat milih baca atau engga. Karena mungkin secaara ngga langsung mempengaruhi kalian pas melakukan perjalanan nanti. Kayak yang menurut gua tempatnyaaga menakutkan ntar sama kalian juga ikut merasa takut pas disana, padahal kalo belom baca tulisan ini mungkin engga. Tapi tulisan ini juga bisa jadi pertimbangan dan pelajaran buat kalian.

Semuanya gua tulis berdasar apa yang gua lihat, dengar, cium, rasa, pikir, dan tentunya yang gua inget. Dan mungkin tulisan ini bakal agak aneh karena gua bakal pake bahasa yang gak begitu formal kecuali.

Kami berempat, Paripurna, Aris Prianto, DhimasPB, & M. Reza kembali dengan selamat atas rahmat Allah.


Bismillah......


18 Desember 2011

“Kumpul Jam 10.00 di rumah Gagas lengkap dengan persyaratan dan perlengkapan pendakian”. Itu yang ada dipikiran gua dari pertama gua bangun pagi itu. Gua bangun agak pagi karena gua belom mulai packing sama sekali. Yaa, tapi barang uda siap sih dari semalem, tinggal masuk-masukkin ke carrier. Pagi-pagi gua minta doa sama bokap yang kemudian pergi ke luar kota duluan sebelum gua berangkat. Kalo ke nyokap, gua uda minta jauh-jauh hari karena hari ini dia lagi di luar kota juga (dan selanjutnya pas gua uda turun gunung dapet BBM dari beliau “Jadi berangkat apa engga?”). Sebelum berangkat gua nimbang carrier. “13,7? Di rumah Gagas pasti nambah lagi’’ gua mikir dalem hati.

Gua minta anterin sama kakak gua yang pertama naik motor dari rumah gua di Depok Jam 9an ke rumah Gagas di Gudang Peluru tempat kita janjian ngumpul. Nyampe sana jam 10 lewat, gua agak gaenak sama kakak gua yang harus menempuh waktu perjalanan yang sama buat balik. Gua pun BBMan sama DhimasPB

Gua: Gua uda di depan rumah Gagas nih
PB: Bentar lagi gua nyampe

Dan bener, bener-bener bentar dia uda nyampe

PB: Gagas mana?
Gua: Di GBK. Kata Gagas sih masuk aja ke halamannya. Uda dibilangin

Kami pun memasuki gerbang rumah Gagas dan ternyata yang di rumah adalah neneknya Gagas dan kami ditanya mau kemana dan lain-lain.
Gak lama, Aris dateng. Habis itu kita packing ulang sambil sekalian nunggu Eja.
Dan si tuan rumah pun dateng sama pacarnya. Kami benar-benar diperlakukan sebagai tamu dengan baik, sampe-sampe dikasih cwie mie gratis hehe.

Dan eja pun datang..... membawa kantong plastik banyak banget isi makanan snack-snack gitu. Dan kami melanjutkan packing ulang..... nah tiba-tiba

Aris: Yah Peb, surat dokter gua ketinggalaan
PB: Yauda, ntar bikin lagi aja di Puskesmas Bukit Duri tanjakan. Sekalian kita fotokopi syarat-syarat lainnya


Dan setengah 12an kami menuju Bukit Duri dengan mobilnya PB. Karena Puskesmas tutup, terpaksa buatnya di klinik dan buat satu orang biayanya 20rb. Habis dzuhur, kami langsung cabut ke Stasiun Senen.




Stasiun Senen


Stasiun waktu itu cukup ramai. Banyak orang ke sana kemari bersama barang-barang mereka. Warung-warung di setiap sudut stasiun pun dipenuhi pelanggan. Gua membatin “Dari sinilah perjalanan yang gak biasa bakal dimulai. Perjalanan yang mungkin gak bakal gua lupain seumur hidup”. Tidak lama setelah memasuki gerbang stasiun, mobil kami pun parkir. Kami segera turun dan mengambil barang-barang kami di bagasi. Kala itu sekitar pukul 13.00 sedangkan kereta MATARMAJA (kereta ekonomi yang kami tumpangi menuju Malang dari Jakarta (*fyi tiket/orang= 51rb) singkatan dari Malang Blitar Madiun Jakarta) dijadwalkan beramgkat pukul 14.00.
Kami pun dengan segera merapikan barang bawaan. Siang itu matahari lagi terik-teriknya. Gua sampe ngerasa perih kena sinarnya. Setelah semua selesai, tinggal Eja yang belum. Dia bilang kalo gak mau menaruh map nya terlalu dalem, katanya buat nulis catatan perjalanan. “Wah, boleh juga tuh.” Pikir gua.


Kami pun menuju peron dan bertanya pada petugas tentang kereta kami. Katanya keretanya telat, jadi kemungkinan datengnya jam setengah 3, berarti berangkatnya sekitar jam 3. Yaudalah mau gimana lagi. Kami kemudian berjalan dan mengambil kursi kosong di bagian selatan dan hampir ujung stasiun. Di dekat situ ada musholla dan kami salat berdua-berdua. Pertama gua sama eja, yang kedua Aris sama PB.
Kami pun duduk bersama carrier kami menunggu kedatangan si pengantar menuju Malang. Ditengah-tengah menunggu, hampir semua dari kami menyibukkan diri dengan ponsel kami masing-masing. Sampai terpikir...... “Kita mau pulang dari Malang gimana? Mau naik MATARMAJA lagi?”
Beberapa opsi keluar, dari jawaban “Iya”, naik bus eksekutif, naik kereta bisnis, sampe naik pesawat dari Surabaya kalo misalnya ada promo dan akhirnya disudahi dengan “Tergantung nanti”

PB: Kata Reu (Anak pecinta alam SMA 68 yang melakukan pendakian juga bareng 2 temannya) dia naik kereta nya 17 Jam.
Gua: Btw, dia mulai naik kapan?
PB: Kurang tau, kalo gak Sabtu sore ya Minggu pagi. Kan dia keretanya dari Jumat

Dan kami menghabiskan waktu dengan ngobrol hal-hal lain, main HP, dan nyemil.


Jam setengah 3 kereta uda dateng. Kami langsung menuju gerbong kami, gerbong 5. Tempat duduk kami pas berhadap-hadapan untuk 4 orang dan terletak dipinggir gerbong, paling dekat dengan sambungan gerbong yang mengarah ke gerbong 6. Di seberang gang dari tempat duduk kami bukan tempat duduk, tapi toilet yang pintunya ada di sambungan gerbong.
Kami langsung nyusun carrier. Super ribettt. Rasanya kami kayak bawa 4 temen lagi buat duduk.
Akhir formasinya: Carrier Aris yang paling langsing ditaro diatas, Carrier gua sama Eja ditaro di kolong tempat duduk. Carrier PB yang paling gemuk gara-gara bawa tenda ditaro di tengah-tengah jarak tempat duduk kami dan menjadi alas kaki buat kami duduk. Ga lupa Eja ngeluarin mapnya dari Carrier. Buat nyusun Carrier aja butuh waktu sekitar 15 menit dan gak sedikit tenaga yang dikeluarin.


Keretanya emang rame, tapi ga sampe penuh. Soalnya uda akhir-akhir ini tiket yang dijual semuanya tiket duduk, gaada tiket berdiri. Karena bengong gaada kerjaan, Eja pun bilang “Eh minta fotoin berempat yuk” dan kami bertiga gaada yang setuju. Kata PB “Jangan Ja ga aman, kalo sama petugasnya gaenak”. Dan akhirnya kami jadinya foto-fotoan sama yang didepan kami.
Formasi pertama kami: Gua di deket jendela ngadep depan kereta, di sebelah gua aris. Di depan gua Eja. Di sebelah Eja, PB.

Maaf, denah diatas pake paint dan bikinnya agak buru-buru


Waktu itu kereta masih gak terlalu rame. Masih terlihat beberapa bangku kosong di gerbong kami. Dan suasana di dalem kereta gerah banget. Mungkin gara-gara masih di stasiun, jadi gaada angin yang masuk lewat jendela. Suasana kayak gini dilengkapi pedagang asongan hilir mudik dari gerbong satu ke gerbong berikutnya nawarin macem-macem barang dari buku, mainan, kipas, sampe makanan & minuman. Hampir setiap 3 menit ada pedagang yang naro “sample” dagangannya di atas meja kecil yang ada diantara gua sama Eja trus mereka jalan dan ngelakuin hal yang sama ke setiap meja. Ga berapa lama mereka ngambil barangnya lagi kalo misalnya kita ga minat beli.

Aris: Wah, rame banget ya pedagangnya.
Gua: *Dengan bodohnya jawab* Ah ntar juga kalo malem juga sepi, pas semuanya uda tidur. Masa tidur masih pada jualan siapa yang mau beli?


Jam 3an kereta mulai jalan. Bersamaan dengan mulai bergeraknya kereta meninggalkan stasiun Senen, kami menunduk, memanjatkan doa setinggi-tingginya kepada yang Maha Kuasa. Tidak kurang dari 1 jam kami akan meninggalkan ibukota ini. Sebelum itu, kereta kami berhenti sejenak di Stasiun Jatinegara. Kursi-kursi yang tadinya kosong pun mulai terisi, membuat suasana gerbong jadi makin gerah. Gak lama, kereta berangkat lagi, stasiun berikutnya agak jauh jadi kereta bisa melaju cukup kencang. Cepatnya kereta membuat angin menjadi deras melewati jendela, yaaa lumayanlah jadi ga begitu gerah. Eja mulai sibuk sama catatan perjalanannya. Yang lain sibuk sama HPnya masing-masing.

Matahari sebentar lagi hilang. Baterai HP yang semakin menipis membuat kami mulai menyimpan mereka. Tampilannya pun dibuat hitam putih biar lebih hemat. Kami menyibukkan diri dengan ngobrol, nyemil snack & roti sambil nyoba buat istirahat.
Adzan maghrib terdengar samar-samar. Gua, dengan bermodalkan debu buat tayamum ngejama' solat maghrib sama isya sambil duduk, kan musafir dapet kemudahan hehe. Habis selesai solat, gua nyender ke jendela, ngeliat keluar, pemandangannya sepi, gelapnya malam yang diterangi lampu-lampu kota yang ga serame Jakarta cukup ngebuat hati tenang. Mata gua mulai terpejam dan akhirnya gua tidur.

Kayaknya gua yang pertama kali dan satu-satunya yang tidur. Gua tau soalnya gua berkali-kali kebangun, dan pas kebangun yang terakhir (sekitar jam 9 malem), yang lain masih belon tidur (Eja uda setengah tidur) tapi posisi duduknya uda berubah, Aris tukeran sama PB. Habis itu Aris minta tuker tempat duduk sama gua biar bisa nyender. Gua ngalah karena emang gua uda tidur lumayan lama. Jadi posisi gua sekarang deket jalan, ngadep belakang kereta, dan di depan gua PB.
Dan gua sadar kalo penumpangnya tidurnya ganti-gantian gini, berarti bakal banyak yang masih bangun, dan pastinya yang jualan ya gak bakal sepi. Bener aja, pedagangnya masih banyak dan mereka umumnya jualan minuman hangat sama pop-mie.


Boseeen, gua hampir tidur lagi. Tapi gua usahain engga, gua ngeliat PB yang uda ngantuk tapli masih berusaha ga tidur supaya bisa jagain barang-barang kami. Yauda gua paksain buat bangun dulu. PB bilang “Biarin mereka dulu yang tidur, habis itu gantian”. Gua iyain aja.
Sejak bangun tadi gua ngerasa ada yang gaenak, gua akhirnya mikir aga lama dan akhirnya gua sadar. Ini malem, asap rokok merajalelaaaaa!!! Aaa, gua emang gakuat kalo uda ketemu asap rokok banyak. Nggh, otak gua mulai kayak diteken-teken, sakittt. Kebanyakan sih dari sambungan gerbong yang letaknya emang deket banget sama tempat duduk gua. Yang ngerokok di situ masih gua maklumin lah, kan emang ada beberapa orang yang ga bisa semalam tanpa rokok. Tapi gua ga habis pikir sama yang ngerokok di tempat duduk. GA MIKIIIRRR kayaknya mereka.

Kayaknya PB mulai gak tahan, dia merem sedikit-sedikit sampe bener-bener merem trus melek lagi. Gitu terus sampe akhirnya bener-bener tidur.
Gua bosen, tapi ga yakin bisa tidur gara-gara asap rokok. Nyoba nyari kerjaan, pas ada pedagang yang lewat, gua beli milo panas.

Gua: Milo berapaan mas?
Masnya: Dua setengah satu. *bingung gak?*
Gua: Yauda satu deh mas

Terus dia gunting sachet Milo trus di taung ke gelas yang kecil, tingginya sama kayak aqua gelas tapi 2x lebih langsing. Gua berasa disiapin whiskey.
Pas lagi dibuatin sama masnya, PB bangun.

PB: Itu apaan Pur? lo beli?
Gua: Iya, itu Milo
PB: Berapaan?
Gua: Dua setengah, Peb.
PB: Mas, saya satu ya.

Selesai dibuatin, kami bayar pake gocengan. Dan Milo-nya bener-bener panas. Gua megangnya males.
Gak lama, milo gua habis. Tapi PB baru selesai agak lama. Gua agak nyesel minum cepet-cepet, lidah gua kayak kebakar. Mati rasa.

Habis itu PB merem lagi. Dan gua.... bosen lagi. Gua ngambil HP, iseng-iseng gua buat tulisan di note HP gua.



Hidup & Mimpi

Hari ini aku terbangun dari tidurku namun tak sejengkalpun meninggalkan mimpiku.
Di mimpiku, aku terus berpikir.
Di dalam pikiranku, aku tetap menanti.
Menanti penuh harap, karena aku hidup dari harapan.
Aku bangkit dari peraduanku
Aku mencoba memulai hidupku.
Di hidupku, aku terlalu banyak bermimpi.
Bukan, mungkin lebih tepat di dalam mimpi aku hidup.
Aku berjalan bersama kecemasan insan terdekatku.
Lalu aku mencari satu insan di dalam kumpulan kecemasan itu.
Namun terlalu banyak, aku pun tenggelam dalam kecemasan itu.
Sungguh, aku tak berharap lebih kecuali satu hal dari insan tersebut.
Sesuatu yang mampu dipersembahkan semua orang.
Sesuatu yang selalu kuberikan pada pribadi di belakang cermin. Sesuatu yang mungkin tidak mampu menyelamatkanku.
Hari pun mulai memudar.
Kelam telah menyelimuti sang matahari.
Sesuatu itu tak kunjung datang, namun aku masih bertahan dalam mimpiku.
Bertahan dalam mimpi yang terlalu sering mengecewakanku. Aku tahu sesuatu itu tak akan mengubah nasibku.
Tapi, betapa indahnya mengetahui orang yang selalu kita sebut dalam doa kita mendoakan kita.

Jakarta-Malang 19 Desember 23.00



Maaf kalo ga jelas. Gua emang ga puitis.
Soalnya cara gua nulis agak suram. Yaitu:
1. Cari sudut pandang yang mau diambil
2. Buat pake bahasa sehari-hari
3. Translate ke bahasa baku
Voila!!!!!

Ahahahaha. Gua juga ga begitu suka ngasih judul, jadi gua ngasih judul ya ngasal banget.
Buat yang kurang ngerti sama tulisan di atas, gua jelasin sedikit maksud si penulis. #halah
Jadi, gua ambil sudut pandang orang yang dalam situasi kayak gua (pergi melakukan perjalanan yang bisa aja gak kembali). Terus yang dia tunggu sebenernya tuh doa. Doa dari orang yang istimewa bagi dia.
Gatau kenapa, otak gua bisa merangkai kalimat “Betapa indahnya mengetahui orang yang selalu kita sebut dalam doa kita, mendoakan kita” yang akhirnya jadi dasar gua buat nulis tulisan tadi.



Balik lagi,
Masih bosen, dan yang lain belom bangun. Gua nulis lagi. Tapi yang ini lebih ga jelas, karena ngantuk gua makin terasa. #alesan

Hadir

Aku termenung.
Langit kelam, dan tak satupun ku lihat bintang terang.
Hanya aku yang terjaga.
Kesunyian ini membawamu masuk kedalam pikiranku.
Aku heran, bukan wajahmu lah yang terlintas, namun hanya namamu dan itu dapat membuat hatiku terenyuh ketika namamu singgah di benakku.
Nama yang membuktikan Tuhan itu tidak memiliki cela.
Mungkin bukan karena perih hatiku terenyuh, tapi karena aku terlalu lelah untuk menjamu dirimu di pikiranku.
Aku tak pernah berharap kau pergi, aku hanya berharap kau tidak menyesal hadir di benakku

Jakarta-Malang 20 Desember 00.00



Tuhkan, judulnya makin ngasal, isinya apalagi.

lanjuttttttt
Huahh, capek duduk 9 jam lebih, gua keluar dulu dari tempat duduk gua. Gua ke sambungan kereta bagian gerbong 5. Sebuah ruangan kecil yang bergandengan dengan sambungan dari gerbong 6. Di kedua sisinya terdapat 2 pintu buat turun naik penumpang. Kereta lagi berenti sebentar. Gua denger percakapan orang ngomong pake bahasa Jawa yang intinya....
“laut tuh, yang mau mandi”
“Eh iya lho, deket banget”
“Emang kita sekarang sampe mana?”
“Semarang”

Gua noleh ke arah pintu yang yang di bagian kiri kereta, terlihat beberapa orang bergerombol disitu. Tapi gua masih bisa ngeliat ke luar. Gua ga liat laut. Di luar bener-bener gelap. Gua cuma denger suara-suara kecil ombak. Hati gua berasa aneh, damai banget denger suaranya.
Kereta jalan dikit-dikit, sekilas cahaya memantul ke air di luar. Ternyata lautnya bener-bener deket.
Capek berdiri, gua ngeliat ke arah tempat duduk gua. Aris uda bangun, PB pindah ke tempat Aris, Aris ke tempat gua, terus mereka tidur. Dan gua masih terjaga. Yauda gua ambil tempat duduk sisa terus duduk merem-merem usaha tidur. Tapi gua tetep gak kuat sama asap rokok padahal gua ngantuk banget.


19 Desember 2011



Harusnya tanggalnya uda berubah daritadi. Tapi gapapa yaaa. lanjut aja.

Pas kereta berenti di salah satu stasiun, ada cukup banyak orang yang masuk pas itu. Gak kayak stasiun-stasiun sebelumnya. Gua melek bentar ngeliat kenapa sebenernya bisa banyak gitu yang masuk. Ternyata mereka pindahan dari kereta lain yang (kayaknya) rusak. Mereka cuma punya tiket buat kereta mereka sebelumnya, bukan kereta kami.

Gua disamperin sama ibu-ibu paruh baya sambil ditanyain pake bahasa Jawa. Intinya:
I: Turun mana mas?
Gua: Di Malang.
I: Ooh di Malang ya.

Trus beliau pergi, nyari koran buat duduk di jalan di dalam gerbong. Trus mereka duduk aja gitu.

Jderrrrr. Gua jadi gaenak ngeliatnya mereka duduk sambil kakinya dilipet biar orang-orang masih bisa lewat. Gua jadi pengen ngasih tempat duduk gua. Tapi takut dikira sok baik, lagian dulu Matarmaja gak semua tiketnya duduk, jadi pemandangan gini harusnya uda biasa.
Tetep aja gua gak enak. Capek nekuk terus diatas carrier PB, gua pindahin kaki gua ke jalan. Trus gua merem. Hati sama otak gua masih memperdebatkan antara ngasih tempat duduk apa engga. Sekitar 10 menitan baru gua berdiri terus nyolek dia, terus ngomong “Di situ aja, Bu” sambil nunjuk tempat duduk gua tadi.

Habis itu gua ke pintu antara ruang utama sama sambungan gerbong 5. Gua nyender di bingkai pintunya, ga mikir apa-apa. Gua cuma ngeliatin sekitar, orang-orang yang masih bangun kebanyakan ngerokok. Sepi.... hampir semuanya diem, sekalinya ada yang ngobrol suaranya hampir gak terdengar. Yang sedikit menghidupkan suasana adalah suara pedagang-pedagang asongan dan sesekali goncangan kereta yang memecah sepi. Pikiran gua gak kemana-mana, cuma di kereta, kayak gaada beban sama sekali.

Sekitar setengah jam-an gua berdiri di situ. Uda capek, gua nyoba nyebrang ke sambungan gerbong 6 gara-gara di sambungan gerbong 5 uda sempit banget. Ternyata di bagian kanan kiri kereta di sambungan masih kosong. Gua buka sebelah pintu yang kanan. Gua ngelongokin badan keluar.

Sssssss angin malem nya seger banget. Di luar gelap & sepi, keliatan sawah & kebun-kebun tapi samar-samar banget gara-gara hampir gaada penerangan sama sekali. Kepala gua noleh ke arah depan kereta. Rel terbentang panjang berliku-liku seakan gaada habisnya.

Capek berdiri, gua nyandar ke pintu kirinya. Duduk, tenang, seger. Kapan lagi bisa ngerasain kayak gini? Gua nyoba tidur dengan suasana yang ada. Tapi yah lagi-lagi di sambungan ini makin banyak orang yang ngerokok.

Makin lama makin pusing, gua coba balik lagi ke sambungan gerbong 5. Masih rame sih, tapi seenggaknya lagi gaada yang ngerokok. Gua berdiri lagi. Bengong lagi.

Setelah gua liat banyak orang ninggalin sambungan gerbong 6, gua ke situ lagi, tapi tempat gua tadi uda ditempatin. Yang sisa cuma di depan kamar mandi. Gara-gara gua ngantuk, Ymgl. Gua duduk di situ meluk lutut gua dan merem. Gua sempet tidur lumayan lama, sekitar setengah jam-an kayaknya, gatau pastinya, batere HP gua uda bener-bener habis soalnya. Dan lagi-lagi gua dibangunin sama yang namanya asap rokok.

Gua berdiri, gua balik lagi ke gerbong 5. Gua liat ibu-ibu tadi masih tidur. Gua nyenderin tangan gua ke kepala bangku tempat aris duduk sambil nopang ke arah gua. Gua ngadep depan kereta. Dan lagi gua nyoba tidur. Dan cukup sukses, gua bisa tidur walaupun 5 menit kemudian gua bangun dan kemudian tidur lagi. Begitu terus sampe cukup lama.

Si ibu-ibu nepok gua, gua disuruh balik ke tempat duduk gua. Gua nurut karena uda capek banget. Kaki gua gua selonjorin ke antara Eja sama Aris. Gua merem. Pas masih setengah tidur, gua denger suara orang (kayaknya pedagang) “Pindah ke gerbong sana aja bu, banyak yang kosong”. Hati gua tenang. Tanpa membuka mata dulu, gua lanjutin aja tidur gua.

Gua tujuhperdelapan tidur seperdelapan sadar sampe sekitar jam setengah 6 gua bangun buat solat subuh sambil duduk. Habis itu Eja bangun, gua minta tuker tempat duduk sama Eja, pingin nyender.

Terus kita bengong, masih mau nyoba istirahat sambil ngobrol-ngobrol dikit.
Eja laper, akhirnya dia mesen nasi pecel. Harganya lumayan murah. Gua sama PB bangun dari kursi, capek duduk. Sementara Eja makan ditemenin Aris, gua sama PB ke sambungan gerbong 5 di pintu masuk bagian kanan kereta.

Gua: Aaaaaaah
-Suasananya emang seger banget-
PB: Duduk aja pur, berani ga?
Gua: Berani lah

Gua duduk, terus PB ikutan duduk. Suasananya gila, damai banget. Pemandagannya di dominasi sawah sama kadang-kadang kebon. Backgroundnya entah gunung Sumbing atau Sindoro. Orang-orang baru mau mulai aktivitasnya. Terkadang rel ngelewatin tanah yang disampingnya rendah banget jadi kayak jurang.
Udaranya minta dihirup tanpa dilepas banget.
PB: Beda banget ya sama di Jakarta
Gua: Iya, baunya enak. Selama pintu yang ini lagi ketutup. *nunjuk WC yang letaknya bener-bener di dekat kami*
PB: Iya ahaha

Puas nontonin pemandangan, gua balik ke tempat duduk. Katanya pecelnya enak banget. Tapi uda abis.......
Dan akhirnya sisa waktu kita abisin buat nyemil sama selonjoran.

Pas uda mau nyampe stasiun Malang. Eja sama PB ngobrol-ngobrol sama orang Malang. Dia ngasih tau katanya ke Tumpang (Pintu Gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) mending charter angkot aja biar murah dan cepet. Trus dia bilang dari Tumpang ke Ranupani (ada yang nyebut Ranupane, tempat awal pendakian) sewa Jeep. Harganya 700 ribu. Denger gitu agak ragu. Yaudalah jalanin aja dulu.

Jam 9. Akhirnya kami menginjakkan kaki di Kota Malang.