Sunday, September 30, 2012

Detik-Detik Tawa

Setelah sekian sebentar yang terasa lama
Aku mencoba menuliskannya
Menintakan kertas ini dengan tawa
Karena aku tahu apapun di depan sana,
bahagialah akhir kisah ini

Hei, aku tidak sedang sendu ketika menulis ini
Begitupun tulisan ini,
ia bukanlah pembawa rintihku

Aku mulai menyesuaikan jiwaku dengan keadaan ini
Memulai mengalihkan pikiranku,
tapi tidak hatiku

Bukannya aku membatukan hatiku,
Tapi aku juga tidak berharap ia tertiup angin dari tempatnya berdiri sekarang

Aku hanya berkata padanya bahwa di sini lah tempatnya,
dan aku yakin
dia tahu apa yang lebih baik bagi dirinya

Aku yakin akan ada senyum bahagia di ujung sana
Dan sebelum tiba waktunya,
aku akan mengisi jalanku dengan senyum-senyum kecil lainnya
Dan aku harap
dirimu juga mengisi ceritamu bersama senyum-senyum itu

Mungkin kamu berpikir mengapa terlalu banyak "aku" di tulisan ini
Itu karena
sekarang belum saatnya bercerita tentang "kita"

Dan sebenarnya,
aku memiliki harapan besar pada suatu cita kecil
Suatu saat,
semoga kita berdua bisa bermain kata dan keindahannya
bersama

Sunday, September 16, 2012

Bintang Terdekat Aku

Karena aku masih berharap, aku tetap mencoba
 
Aku meninggikan keinginan yang terucap dari keindahan yang tak terulang
Karena itu aku berdoa itu belum berakhir
Supaya tidak perlu mengulang
Dan sehingga semua menjadi mungkin
 
Ini bukan soal kemenangan

Aku yang sekarang tau apa yang mataharinya rasakan dulu
Yang kini berharap mentarinya tetap menghujani bumi dengan butiran rasa yang sama
 
Mentari yang terlalu sering menyilaukan dibanding matahari-matahari pendahulunya
Mentari yang tidak jarang juga menyembunyikan dirinya
Sehingga malam duniaku datang terlalu cepat
 
Matahari yang hanya sesekali menerbitkan dirinya sendiri
Dan aku yang memanggil-manggil dirinya untuk bersinar
Karena aku tau aku butuh siang dari dirinya
 
Walau terkadang mataku mencuri-curi untuk memejam
Aku tak pernah ingin membiarkan diriku untuk tidak terjaga saat siang, 
Entah saat sinar sang mentari sangat menyilaukan maupun terlalu redup

Ketanyaan Yang Masih Kosong

Sesaat terlintas tanya
Siapa sebenarnya aku bagimu
Kau bagi aku
Siapa sebenarnya kita

Aku hanya mampu menjawab satu
Dan kamu mampu yang satu lainnya
Satu harapan yang masih kupegang
Kita mampu menjawab pertanyaan terakhir bersama

Hanya apa yang dapat kulakukanlah yang aku pedulikan
Tak pernah bermimpi lebih tentang apa yang nanti akan ku dapat.
Sebab aku tidak ingin banyak berharap

Aku tidak membual ketika memperjuangkan agar kau bahagia dengan orang lain
Dan sungguh, tak ada secercah pun kebohongan saat aku mendukungmu

Untuk kamu ketahui, aku tak cukup percaya diri untuk buatmu berbahagia

Mungkin aku gila
Karena aku sekarang berharap kamu mempercayai aku, saat aku bahkan tidak mampu mempercayai diri sendiri